BAB 16 PENANGANAN DARURAT PADA KERACUNAN

Catatan ini merupakan tinjauan secara umum tentang tatalaksana keracunan dan oleh karena itu disarankan untuk tetap menghubungi Sentra Informasi Keracunan (SIKer) jika terjadi keraguan tentang tingkat risiko dan tatalaksana keracunan.

PERAWATAN RUMAH SAKIT
Semua pasien yang menunjukkan tanda keracunan umumnya sebaiknya dirawat di rumah sakit. Pasien yang menelan racun dengan kerja lambat juga sebaiknya dirawat di rumah sakit, meskipun mereka terlihat sehat. Racun yang bekerja lambat di antaranya asetosal, zat besi, parasetamol, antidepresan trisiklik, kofenotrop (kombinasi difenoksilat dengan atropin) dan parakuat; hal serupa berlaku juga untuk kapsul atau tablet lepas- lambat. Catatan tentang informasi yang relevan termasuk penanganan yang telah dilakukan sebaiknya disertakan pada saat pasien dibawa ke rumah sakit.

Perawatan umum
Seringkali sulit memastikan jenis racun dan dosisnya. Untungnya, informasi ini umumnya tidak selalu diperlukan karena hanya sedikit racun yang memiliki antidotum yang spesifik (antara lain opioid, parasetamol, dan zat besi); tidak banyak pasien memerlukan pengeluaran racun secara aktif. Pada kebanyakan kasus, tatalaksana ditujukan pada gejala yang muncul/simptomatik. Walaupun demikian, pengetahuan tentang jenis dan saat terjadinya keracunan akan membantu dalam mengantisipasi efek toksik yang muncul. Semua informasi yang relevan, baik dari pasien dan orangtua atau pengasuh, sebaiknya didapatkan. Namun informasi seperti ini sebaiknya dipahami secara hati- hati karena informasi tersebut dapat saja tidak dapat dipercaya secara keseluruhan. Kadangkala gejala itu sebenarnya berasal dari suatu penyakit lain, oleh karena itu pasien sebaiknya dinilai secara hati-hati. Kasus keracunan dapat timbul dari beberapa produk rumah tangga dan produk industri (yang pada umumnya isinya tidak diketahui). Jika terdapat dugaan terjadinya keracunan, sebaiknya di konsultasikan ke Sentra Informasi Keracunan.

FUNGSI PERNAPASAN
Pernapasan sering terganggu pada pasien yang tak sadarkan diri. Sumbatan jalan napas membutuhkan tindakan segera. Bila tidak ada trauma, segera bebaskan jalan nafas dengan teknik chin lift atau jaw trust. Pipa orofaring dan pipa nasofaring (gudel) dapat digunakan pada pasien dengan penurunan kesadaran untuk mencegah obstruksi serta memberikan ventilasi yang adekuat. Tindakan intubasi dan ventilasi sebaiknya dipertimbangkan pada pasien yang jalan nafasnya tidak dapat dilindungi dan ventilasinya tidak adekuat akibat asidosis respiratorik, pasien dengan kondisi demikian sebaiknya dirawat dan dipantau pada perawatan ICU (critical care area). Kebanyakan racun yang dapat mengganggu kesadaran juga dapat menekan pernapasan. Bantuan pernapasan, misalnya dengan mulut-ke-mulut atau dengan alat ambu-bag mungkin diperlukan. Ventilasi yang adekuat tidak dapat digantikan dengan pemberian oksigen semata, walaupun pada kasus keracunan karbon monoksida dan gas iritan oksigen memang sebaiknya diberikan dengan kadar setinggi mungkin.

Pemberian perangsang/stimulan pernapasan tidak menolong dan sebaiknya dihindarkan. Harus dipertimbangkan potensi aspirasi paru dari isi lambung.

TEKANAN DARAH
Hipotensi sering terjadi pada keracunan yang berat yang disertai depresi sistem saraf pusat. Tekanan darah sistolik kurang dari 70 mmHg dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen atau nekrosis tubuler ginjal. Hipotensi sebaiknya segera dikoreksi mula- mula dengan cara merendahkan posisi kepala pasien dan pemberian infus NaCl atau infus koloidal. Zat simpatomimetik vasokonstriktor jarang digunakan dan untuk penggunaannya dapat meminta saran dari Sentra Informasi Keracunan.

Kehilangan cairan tanpa terjadinya hipotensi, umum terjadi pada koma yang berkepanjangan dan pada keracunan asetosal yang disertai adanya muntah, berkeringat, dan hiperpneu. Pada kasus keracunan, hipertensi seringkali bersifat sementara (sesaat) lebih jarang terjadi dibandingkan hipotensi. Hipertensi dapat disebabkan oleh obat-obat simpatomimetik seperti amfetamin, fensiklidin, dan kokain.

JANTUNG
Gangguan konduksi jantung dan aritmia dapat terjadi pada keracunan akut, terutama pada keracunan antidepresan trisiklik, beberapa antipsikotik, beberapa antihistamin, dan koproksamol. Aritmia yang disebabkan oleh kondisi hipoksia, asidosis atau abnormalitas biokimia lain, seringkali memberikan respons terhadap pemberian koreksi. Aritmia ventrikel yang menimbulkan hipotensi berat mungkin memerlukan terapi. Jika interval QT memanjang, pemberian obat antiaritmia mungkin tidaklah tepat sehingga sebaiknya dirujuk kepada ahli jantung. Aritmia supraventrikel kadang mengancam jiwa dan pengobatan sebaiknya ditunda hingga pasien tiba di rumah sakit.

SUHU TUBUH
Hipotermia dapat terjadi pada pasien segala usia, yang tidak sadarkan diri untuk beberapa jam, khususnya setelah menelan barbiturat atau fenotiazin. Kondisi ini dapat terabaikan kecuali bila suhu inti diukur secara rektal menggunakan termometer rektal berskala rendah atau dengan alat lainnya. Cara terbaik untuk mengatasi hipotermia adalah dengan membalut pasien dengan selimut (misalnya space blanket) untuk mempertahankan panas tubuh.

Hipertermia dapat terjadi pada pasien yang mengkonsumsi stimulan SSP; anak dan lansia juga mempunyai risiko mengalami hipertermia bila mengkonsumsi obat-obatan yang mempunyai efek antimuskarinik, bahkan dalam dosis terapi sekalipun. Hipertermia pertama-tama diatasi dengan melepaskan pakaian pasien dan gunakan kipas angin. Kompres dengan air hangat akan mempercepat evaporasi; jangan gunakan air dari Sentra Informasi Keracunan tentang tatalaksana hipertermia berat, misal kondisi sindrom serotonin.

Hipotermia dan hipertermia merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan segera di rumah sakit untuk penilaian kondisi dan pemberian terapi suportif.

KONVULSI
Kejang tunggal dan singkat tidak memerlukan pengobatan. Bila kejang berlangsung lama dan berulang, segera berikan lorazepam 4 mg atau diazepam (sebaiknya dalam bentuk emulsi) hingga 10 mg injeksi intravena, pada vena besar secara perlahan; benzodiazepin tidak boleh diberikan secara intramuskular.