Strontium ranelat

Strontium ranelat menstimulasi pembentukan tulang dan mengurangi resorpsi tulang. Obat ini digunakan untuk osteoporosis pascamenopause. Strontium ranelat hanya digunakan bila penggunaan bifosfonat dikontraindikasikan atau tidak dapat ditoleransi, usia di atas 75 tahun dengan riwayat fraktur dan kepadatan mineral tulang yang rendah atau wanita yang memiliki risiko setara. Pada anak, kelainan tulang yang terjadi adalah ricket dan osteoporosis. Jenis ricket yang paling sering adalah ricket defisiensi vitamin D dan ricket hipopospatemik. Lihat juga kalsium (bagian 9.4.1.1). Osteoporosis pada anak dapat bersifat primer (osteogenesis imperfecta dan idiophatic juvenile osteoporosis) atau sekunder (misal karena gangguan inflamasi/peradangan, imobilisasi/ tidak banyak bergerak, atau kortikosteroid). Pada keadaan ini diperlukan penanganan dokter spesialis.

Monografi: 

STRONTIUM RANELAT

Indikasi: 

Osteoporosis berat pascamenopause untuk mengurangi risiko fraktur tulang vertebral dan pinggul.

Peringatan: 

Kejadian iskemik jantung: secara signifikan meningkatkan infark miokard, pasien dengan risiko kejadian kardiovaskular (hipertensi, hiperlipidemia, diabetes melitus, perokok), gangguan ginjal dengan bersihan kreatinin <30 mL/menit, pengobatan lanjutan pada pasien dengan gangguan ginjal berat harus dipertimbangkan secara individual, mempengaruhi tes lab: pengukuran kalsium darah dan urin secara kalorimeter.

Interaksi: 

Makanan, susu, dan produk turunannya, dan obat yang mengandung kalsium: mengurangi bioavabilitas dari strontium ranelat. Tetrasiklin oral (doksisiklin) dan kuinolon (siprofloksasin): mengurangi absorpsi strontium ranelat. Alumunium dan magnesium hidroksida: 2 jam sebelum atau bersamaan dengan strontium ranelat dapat menurunkan absorpsi strontium ranelat.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, penderita atau riwayat tromboemboli vena (VTE) termasuk trombosis vena dalam dan emboli paru, imobilisasi sementara atau permanen seperti pemulihan pascabedah atau istirahat total berkepanjangan, riwayat penyakit jantung iskemik, arteri perifer dan serebrovaskular, hipertensi yang tidak terkontrol.

Efek Samping: 

Sangat umum: reaksi hipersensitivitas kulit (ruam, gatal, urtikaria, angiodema), nyeri muskuloskeletal (kejang otot, mialgia, nyeri tulang, artralgia, nyeri pada ekstremitas). Umum: hiperkolesterolemia, insomnia, sakit kepala, gangguan kesadaran, hilang ingatan, pusing, paraestesia, vertigo, infark miokard, tromboemboli vena (VTE), hiperaktivitas bronkus, mual, diare dan feses lunak, muntah, nyeri abdomen, eksem, udem perifer, meningkatnya kreatin fosfokinase darah. Tidak umum: peningkatan kelenjar limfa, bingung, kejang, iritasi mukosa mulut, mulut kering, peningkatan serum transaminase, dermatitis, alopesia, demam, malaise. Jarang: kegagalan sumsum tulang belakang, Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS). Sangat Jarang: Sindroma Stevens-Johnson dan nekrosis epidermal.

Dosis: 

Oral: 2 g sekali sehari dicampur dengan air 30 mL langsung diminum. Sebaiknya diminum menjelang tidur malam atau 2 jam setelah makan malam.