6.7.1 Bromokriptin dan Obat Dopaminergik Lain

Bromokriptin adalah suatu stimulan reseptor dopamin pada otak, juga menghambat penglepasan prolaktin oleh hipofisis. Bromokriptin juga digunakan untuk pengobatan galaktorea dan tumor jinak payudara yang muncul secara berkala dan untuk mengatasi prolaktinoma (untuk menurunkan kadar prolaktin plasma maupun ukuran tumor). Bromokriptin juga menghambat penglepasan hormon pertumbuhan dan kadang-kadang digunakan dalam pengobatan akromegali tetapi analog somastostatin (seperti oktreotid, butir 8.3.4.3) lebih efektif.

Kabergolin mempunyai mekanisme kerja dan penggunaan yang mirip dengan bromokriptin, tapi lama kerja lebih panjang. Efek samping berbeda dengan bromokriptin dan pasien yang tidak toleran dengan bromokriptin mungkin dapat toleran dengan kabergolin.

Reaksi fibrotik
Diingatkan bahwa agonis reseptor dopamin turunan ergot, bromokriptin, kabergolin, lisurid dan pergolid dikaitkan dengan reaksi fibrotik pada pericardia, retroperitoneal dan pulmonari.

Sebelum memulai pengobatan dengan turunan ergot ini sebaiknya dilakukan pengukuran laju endap eritrosit dan kreatinin serum dan foto rontgen paru. Penderita sebaiknya diawasi jika terjadi sesak, batuk menetap, nyeri dada, gagal jantung dan nyeri perut atau kelemahan. Jika diinginkan pengobatan jangka lama, uji fungsi paru-paru dapat bermanfaat.

Kuinagolid, mekanisme kerja dan penggunaan mirip dengan agonis dopamin turunan ergot, tetapi efek sampingnya sedikit berbeda.

Supresi laktasi
Walaupun bromokriptin dan kabergolin digunakan untuk supresi laktasi, keduanya tidak dianjurkan untuk supresi rutin (atau untuk gejala ringan nyeri pasca melahirkan dan pembesaran payudara) cukup diobati dengan analgesik ringan dan penahan payudara. Jika diperlukan penggunan suatu agonis reseptor dopamin, biasanya kabergolin lebih disukai. Kuinagolid tidak disarankan untuk supresi laktasi.

Rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari atau tiba-tiba tertidur dapat terjadi pada penggunaan dengan obat-obat dopaminergik. Penderita yang mulai pengobatan dengan obat ini sebaiknya diperingatkan kemungkinan terjadinya efek ini dan perlu diperhatikan untuk penderita yang mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin. Penderita yang menderita sedasi atau tiba-tiba tertidur sebaiknya menghindari mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin sampai efek sedasi hilang.

Monografi: 

BROMOKRIPTIN

Indikasi: 

lihat keterangan pada dosis.

Peringatan: 

evaluasi hipofisis selama pengobatan, evaluasi ginekologis, amati timbulnya tukak lambung, kontrasepsi oral meningkatkan kadar bromokriptin, riwayat kelainan mental, penyakit jantung, atau penyakit Raynaud; gangguan fungsi hati dan ginjal, porfiria. Hipotensi dapat sangat mengganggu pada hari-hari pertama pengobatan (hati-hati pada pengemudi dan operator alat berat).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (bromokriptin).

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas bromokriptin atau ergot lain, toksemia gravidarum, hipertensi pada wanita pasca persalinan/nifas.

Efek Samping: 

mual, muntah, konstipasi, sakit kepala, pusing, vasospasme jari kaki dan tangan khususnya pada pasien penyakit Raynaud; pada dosis tinggi: bingung, halusinasi, perangsangan psikomotor, mulut kering, kram tungkai, efusi pleura, fibrosis retroperitoneal.

Dosis: 
  • Prolaktinoma: mula-mula 1-1,25 mg menjelang tidur, ditingkatkan menjadi 5 mg setiap 6 jam (kadang perlu ditingkatkan sampai 30 mg);
  • Akromegali: mula-mula 1-1,25 mg menjelang tidur, ditingkatkan menjadi 5 mg setiap 6 jam;
  • Cyclical Benign Breast Disease (nyeri payudara terutama menjelang haid): mula-mula 1-1,25 mg menjelang tidur, ditingkatkan menjadi 2,5 mg sehari 2 kali;
  • Hipogonadisme/galaktorea: mula-mula 1-1,25 mg menjelang tidur, ditingkatkan menjadi 7,5 mg dalam beberapa kali pemberian; kalau perlu dinaikkan sampai maksimum 30 mg/hari; dosis umum tanpa hiperprolaktinemia 2,5 mg/hari;
  • Penekanan menyusui: 2,5 mg/hari pada hari pertama (untuk mencegah) atau selama 2-3 hari (untuk menekan), dilanjutkan dengan 2 kali 2,5 mg per hari selama 14 hari.