6.7.2 Obat yang Mempengaruhi Gonadotropin

Danazol penghambat gonadotropin pituitari, mempunyai aktivitas kombinasi androgenik dengan aktivitas antiestrogen dan anti-progestogen. Danazol diberikan untuk mengatasi endometriosis dan untuk nyeri berat tumor payudara fibrosistik jinak di mana obat lain telah terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan.

gastrinon mempunyai kerja mirip dengan danazol dan diindikasikan untuk mengatasi endometriosis.

Setroreliks dan ganireliks adalah hormon luteinising releasing hormone antagonis yang menghambat penglepasan gonadotropin (luteinising releasing hormone dan follicle stimulating hormone). Obat ini digunakan pada pengobatan infertilitas dengan teknik reproduksi bantuan (inseminasi).

Monografi: 

DANAZOL

Indikasi: 

lihat keterangan di atas dan lihat pada dosis.

Peringatan: 

gangguan fungsi jantung, hati dan ginjal (hindari jika berat), lansia, polisitemia, epilepsi, diabetes mellitus, hipertensi, migren, kelainan lipoprotein, sejarah trombosis atau tromboembolik; hentikan jika terjadi virilisasi (dapat menjadi menetap bila penggunaan tetap dilanjutkan); jika cocok, metode kontrasepsi non-hormonal sebaiknya digunakan.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (danazol).

Kontraindikasi: 

kehamilan (lihat Lampiran 4), pastikan bahwa pasien dengan amenoroea tidak sedang hamil; menyusui (lihat Lampiran 5); gangguan fungsi hati, ginjal atau jantung yang berat; penyakit tromboembolik; perdarahan genital yang belum terdiagnosa; tumor yang dipicu androgen; porfiria.

Efek Samping: 

mual, pusing, reaksi kulit meliputi ruam, sensitif terhadap cahaya dan dermatitis eksfoliatif, demam, nyeri punggung, gugup perubahan suasana hati, ansietas, perubahan libido, vertigo, lelah, nyeri epigastrik dan pleuritik, sakit kepala, peningkatan berat badan; gangguan menstruasi, iritasi dan kekeringan vagina, flushing dan ukuran payudara mengecil; spasme muskulo-skeletal, nyeri sendi dan bengkak, rambut rontok; efek androgenik meliputi jerawat, kulit berminyak, udem, hirsutisme, perubahan suara dan kadang terjadi hipertropi klitoris; peningkatan sementara lipoprotein dan perubahan metabolik yang lain, resistensi insulin; terjadi trombotik; leukopenia, trombositopenia, eosinofilia, dilaporkan kejadian eritrositosis sementara atau polisitemia; sakit kepala dan gangguan penglihatan yang kemungkinan mengindikasikan adanya hipertensi intrakranial yang tidak berbahaya; kolestatik jaundice (jarang), pankreatitis, hepatitis peliosis dan benign hepatic adenomata.

Dosis: 

umumnya: 200-800 mg/hari.
• Endometriosis: dosis awal 400 mg sehari dalam satu siklus pengobatan sampai 6 bulan, namun pengobatan sampai 9 bulan mungkin diperlukan pada beberapa kasus. Dosis sebaiknya dinaikkan apabila siklus perdarahan normal masih terjadi setelah 2 bulan pengobatan; pada beberapa kondisi yang berat mungkin diperlukan dosis yang lebih tinggi.
• Menoragia: 200 mg/hari, biasanya selama 3 bulan.
• Kista jinak payudara: 300 mg/hari, selama 3-6 bulan.
• Ginekomasti: Remaja: 200 mg sehari selama 6 bulan. Dapat dinaikkan sampai dengan 400 mg sehari apabila tidak terjadi perbaikan setelah 2 bulan pengobatan. Dewasa: dapat diberikan 400 mg sehari.
• Prabedah endometriosis: 400-800 mg/hari selama 3-6 minggu.

GANIRELIKS

Indikasi: 

pencegahan terjadinya luteinizing hormon (LH) yang prematur pada wanita yang menjalani controlled ovarian hyperstimulation (COH) untuk membantu teknik reproduksi. Pada uji klinik, dikombinasi dengan follicle stimulating hormone (FSH) rekombinan.

Peringatan: 

Hati-hati pemberian pada wanita yang mudah mengalami alergi. Efikasi dan keamanan penggunaan pada wanita dengan berat badan kurang dari 50 kg atau lebih dari 90 kg belum diketahui dengan pasti.

Kontraindikasi: 

hipersensitif pada ganirelix dan komponen sediaannya; hipersensitif terhadap gonadotropin-releasing hormone (GnRH); kehamilan (lampiran 4), menyusui (lampiran 5), gangguan fungsi ginjal sedang hingga berat (lampiran 3), gangguan fungsi hati sedang hingga berat (lampiran 2).

Efek Samping: 

mual, sakit kepala, reaksi pada tempat penyuntikan, pusing, astenia dan malaise.

Dosis: 

0,25 mg diberikan secara subkutan sekali sehari, dimulai pada hari ke -6 pemberian FSH. Pada individu yang mengalami peningkatan LH lebih dini, dapat dicegah dengan pemberian pada hari ke-5. COH dengan FSH dapat dimulai pada hari ke 2 atau ke 3 masa menstruasi. Pemberian dapat ditunda bila tidak terjadi follicular growth. Pemberian harus dilakukan bersamaan dengan FSH namun tidak boleh dicampur dan diberikan pada tempat injeksi yang berbeda. Jika diinjeksikan pada pagi hari, pemberian harus melewati masa pemberian gonadotropin, termasuk hari menginduksi ovulasi. Jika diinjeksikan pada siang hari, dosis terakhir harus diberikan siang hari sebelum hari menginduksi ovulasi. Tempat injeksi pada pangkal paha dan berpindah-pindah untuk mencegah lipoatrofi.

GESTRINON

Indikasi: 

endometriosis.

Peringatan: 

lihat keterangan pada danazol.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (gestrinon).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan pada danazol.

Efek Samping: 

lihat keterangan pada danazol.

Dosis: 

2,5 mg 2 kali seminggu: dosis pertama pada hari pertama, dosis kedua 3 hari kemudian, selanjutnya diulang pada hari yang sama setiap minggu; bila ada dosis yang terlupa, segera makan 2,5 mg, tetapi bila terlupa 2 dosis atau lebih maka pengobatan harus dimulai kembali.

SETRORELIKS ASETAT

Indikasi: 

Pencegahan ovulasi prematur pada penderita yang menjalani stimulasi ovarium di bawah pengawasan, diikuti dengan oocyte pick up dan bantuan reproductive techniques.

Kontraindikasi: 

kehamilan (lihat lampiran 2), menyusui, gangguan fungsi hati sedang dan gangguan fungsi ginjal sedang (lihat lampiran 3).

Efek Samping: 

mual, sakit kepala, reaksi disekitar tempat injeksi, jarang terjadi reaksi hipersensitivitas.

Dosis: 

setroreliks 0,25 mg hanya boleh diberikan oleh dokter spesialis berpengalaman dalam bidangnya. Setroreliks 0,25 mg diberikan melalui injeksi subkutan pada dinding abdomen sekali sehari interval 24 jam baik pagi atau sore. Obat dapat diinjeksikan sendiri oleh pasien setelah diberikan instruksi yang tepat oleh dokter.Pemberian di pagi hari: pengobatan dengan setroreliks 0,25 mg harus mulai pada hari ke 5 atau 6 stilmulasi ovarium ( kira-kira 96 ±120 jam setelah stimulasi ovulasi dimulai) dengan gonadotropin rekombinan dan dilanjutkan selama perioda pengobatan gonadotropin termasuk hari induksi ovulasi.Pemberian di sore hari: pengobatan dengan setroreliks 0,25 mg harus mulai pada hari ke-5 stilmulasi ovarium (kira-kira 96-108 jam setelah stimulasi ovulasi dimulai) dengan gonadotropin rekombinan dan dilanjutkan selama periode pengobatan gonadotropin termasuk hari induksi ovulasi.