LAMPIRAN 1 : INTERAKSI OBAT

Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu bersamaan dapat memberikan efek masing-masing atau saling berinteraksi. Interaksi tersebut dapat bersifat potensiasi atau antagonis satu obat oleh obat lainnya, atau kadang dapat memberikan efek yang lain. Interaksi obat yang merugikan sebaiknya dilaporkan kepada Badan/Balai/Balai Besar POM seperti halnya dengan reaksi obat merugikan lainnya.

Interaksi obat dapat bersifat farmakodinamik atau farmakokinetik.

 

Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat-obat yang  mempunyai efek farmakologi atau efek samping yang serupa atau yang berlawanan. Interaksi ini dapat disebabkan karena kompetisi pada reseptor yang sama, atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologik yang sama. Interaksi ini  biasanya dapat diperkirakan berdasarkan sifat farmakologi  obat-obat yang berinteraksi. Pada umumnya, interaksi yang terjadi dengan suatu obat akan terjadi juga dengan obat sejenisnya. Interaksi ini terjadi dengan intensitas yang berbeda pada kebanyakan pasien yang mendapat obat-obat yang saling berinteraksi.

 

Interaksi  Farmakokinetik
Yaitu interaksi yang terjadi apabila satu obat mengubah absorpsi, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat lain. Dengan demikian interaksi ini meningkatkan atau mengurangi jumlah obat yang tersedia (dalam tubuh) untuk dapat menimbulkan efek farmakologinya. Tidak mudah untuk memperkirakan interaksi jenis ini   dan  banyak diantaranya hanya mempengaruhi pada sebagian kecil pasien yang mendapat kombinasi obat-obat tersebut. Interaksi farmakokinetik yang terjadi pada satu obat belum tentu akan terjadi pula dengan obat lain yang sejenis, kecuali jika memiliki sifat-sifat  farmakokinetik yang sama .

Interaksi farmakokinetik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok:

Mempengaruhi absorpsi
Kecepatan absorpsi atau total jumlah yang diabsorpsi dapat dipengaruhi oleh interaksi obat. Secara klinis, absorpsi yang tertunda kurang berarti kecuali diperlukan kadar obat dalam plasma yang tinggi (misal pada pemberian analgesik). Namun demikian penurunan jumlah yang diabsorbsi dapat menyebabkan terapi menjadi tidak efektif.

Menyebabkan perubahan pada  ikatan protein
Sebagian besar obat berikatan secara lemah dengan protein plasma karena ikatan protein tidak spesifik, satu obat dapat menggantikan obat yang lainnya, sehingga jumlah bentuk bebas meningkat dan dapat berdifusi dari plasma ketempat kerja obat. Hal ini akan menghasilkan peningkatan efek yang terdeteksi hanya jika kadar obat yang berikatan sangat tinggi (lebih dari 90%) dan tidak terdistribusikan secara luas di  seluruh tubuh. Walaupun demikian, penggantian posisi jarang menyebabkan potensiasi yang lebih dari potensiasi sementara, karena meningkatnya bentuk bebas juga akan meningkatkan kecepatan eliminasi obat. Penggantian posisi  pada tempat ikatan protein penting  pada potensiasi warfarin oleh sulfonamid dan tolbutamid. Tetapi hal ini menjadi penting terutama karena metabolisme warfarin juga dihambat.

Mempengaruhi metabolisme.
Banyak obat dimetabolisme di hati. Induksi terhadap sistem enzim mikrosomal hati oleh salah satu obat dapat menyebabkan perubahan kecepatan metabolisme obat lainnya secara bertahap, sehingga menyebabkan rendahnya kadar plasma dan mengurangi efek obat. Penghentian obat penginduksi tersebut dapat menyebabkan meningkatnya kadar plasma obat yang lainnya sehingga terjadi gejala toksisitas. Barbiturat, griseofulvin, beberapa antiepilepsi dan rifampisin adalah penginduksi enzim yang paling penting. Obat yang dipengaruhi antara lain warfarin dan kontrasepsi oral.

Sebaliknya, saat suatu obat menghambat metabolisme obat lain, akan terjadi peningkatan kadar plasma, sehingga menghasilkan peningkatan efek secara cepat dan juga meningkatkan risiko. Beberapa obat yang meningkatkan potensi warfarin dan fenitoin memiliki mekanisme  seperti di atas.

Isoenzim dari sistem sitokrom  hepatik P450 berinteraksi dengan sebagian besar obat. Obat dapat bertindak sebagai substrat,  penginduksi, atau penghambat dari  isoenzim yang berbeda. Beberapa informasi in-vitro tentang efek obat terhadap insoenzim telah tersedia, tetapi karena eliminasi obat dapat melalui beberapa jalur metabolisme seperti eliminasi oleh ginjal maka efek klinik dari interaksi tidak dapat diprediksi secara tepat berdasarkan data laboratorium tentang isoenzim sitokrom P450. IONI hanya menampilkan interaksi yang  telah dilaporkan pada tenaga kesehatan, kecuali kombinasi dua obat memang dikontraindikasikan.  Pada tiap kasus kemungkinan  interaksi harus dipertimbangkan jika terjadi efek toksik atau jika aktivitas obat tersebut menjadi hilang.

Mempengaruhi ekskresi ginjal
Obat dieliminasi melalui ginjal, melalui filtrasi glomerulus dan melalui sekresi aktif di tubulus ginjal. Kompetisi terjadi antara obat-obat yang menggunakan mekanisme transport aktif yang sama di tubulus proksimal. Contohnya salisilat dan beberapa AINS menghambat ekskresi metotreksat; toksisitas metotreksat yang serius dapat terjadi.

 

PENTINGNYA INTERAKSI
Banyak interaksi obat tidak berbahaya tetapi banyak juga interaksi yang potensial berbahaya hanya terjadi pada sebagian kecil pasien. Terlebih, derajat keparahan suatu interaksi bervariasi dari satu pasien ke pasien lain. Obat-obat dengan indeks terapi sempit (misalnya fenitoin) dan obat-obat yang memerlukan kontrol dosis yang ketat (antikoagulan, antihipertensi dan antidiabetes) adalah obat-obat yang paling sering terlibat.

Pasien dengan peningkatan risiko mengalami interaksi obat adalah lansia dan orang-orang dengan gagal ginjal atau hati.

Interaksi Yang Berbahaya.
Simbol • dicantumkan pada interaksi yang potensial berbahaya serta apabila pemberian kombinasi obat-obat yang terkait sebaiknya dihindari (atau hanya diberikan dengan peringatan dan pemantauan  yang memadai).

Interaksi yang tidak ditandai dengan simbol biasanya tidak mempunyai  akibat yang serius.

Daftar Interaksi Obat
Berikut ini adalah daftar berdasarkan alfabetis dari obat-obat dan interaksinya. Untuk menghindari perujukan silang yang berlebihan, setiap obat atau golongan obat dimasukkan dua kali: dalam daftar alfabetisme dan juga terhadap obat atau kelompok obat yang berinteraksi dengannya.